Rabu, 07 Juli 2010

skripsi bab iii

BAB III
METODA PENELITIAN DAN HASIL

Untuk mendapatkan data geologi maupun geofisika telah diterapkan beberapa metoda pengumpulan data yaitu : seismik pantul dangkal saluran tunggal, pemeruman (pengukuran kedalaman laut)dan pengeboran lepas pantai. Data tersebut di plot dalam masing-masing peta dengan penentuan posisi menggunakan sistem navigasi GPS (Global Positioning System).

3.1 Seismik Pantul Dangkal Saluran Tunggal
Di Indonesia hingga saat ini survei seismik pantul dangkal jarang dilakukan karena :
a. Adanya kesan survei terlalu mahal untuk eksplorasi dangkal
b. Teknik pengambilan data lapangan yang tidak tepat sehingga hasil tidak memuaskan.
Syarat penting dari metoda seismik pantul dangkal adalah :
1. Kandungan frekuensi sinyal harus tinggi yaitu ¼  yang merambat lebih kecil dari tebal lapisan. Antara f dan  terdapat hubungan :
= kecepatan gelombang seismik sebagai karakteristik medium
Sebagai gambaran :
a. Energi seismik dengan f = 300 Hz , = 5 pada tanah tidak terkonsolidasi dan jenuh air
b. Untuk f = 100 Hz ,  = 15 m
2. Tahap identifikasi gelombang-gelombang merupakan syarat penting dalam pemrosesan data seismik pantul. Suatu gelombang yang terpantul oleh suatu lapisan akan secara konsisten tampak dalam rekaman-rekaman lapisan (shot gather).
Pemrosesan data akan berusaha memperjelas sinyal pantulan yang mungkin tampak samar dalam rekaman lapangan dan menekan noise yang mengganggu sinyal pantul.
Time (ms)

Distance(m) Ground Roll
Gelombang suara
Gelombang pantul
Ofset minimum
Gelombang data pertama
Gambar 3.1 Kurva Time-Distance yang menunjukkan penentuan Optimum Offset (M.untung dkk)

Metoda Ofset minimum dengan saluran tunggal (Single Channel) untuk pengambilan data di darat (onshore) hanya cocok jika panjang garis yang akan di survei tidak terlalu panjang. Untuk garis seismik yang panjang, maka metoda Single Channel tidak lagi sesuai karena akan memerlukan waktu yang lama dalam pemindahan geophone.
Karena Penelitian ini mengambil data di laut maka menggunakan metoda seismik dangkal saluran tunggal dengan sistem perekam analog.
Sistem peralatan yang digunakan sebagai berikut:
Unit pemancar energi :
-Uniboom EG&G 230
-Power suplly EG&G 232
-Genset 10 KVA Yanmar
-Trigger capacitor Bank RG&G 231
Unit Penerima : Hydrophone 21 elemen Benthos
Unit Penyaring : Band Pass Fillter Khronhite 3700, swell filter TSS 305
Unit Perekam Analog: Graphic recorder EPC seri 3200
Dengan energi suara 300 joule dan sapuan ¼ detik/sweep pada setiap ½ detik ledakan dengan ambang frekuensi antara 400-4000 Hz maka diharapkan akan memberikan informasi keadaan bawah permukaan dasar laut sampai kedalaman tertentu.
Dari hasil penelitian ini diperoleh panjang lintasan seismik kurang lebih 150 kilometer, yang terbagi dalam 37 lintasan tegak lurus dan sejajar pantai serta 2 lintasan cross line.













Foto 1. Model Perekam Analog (EPC seri 3200)

3.2 Metoda Pemeruman
Metoda ini bertujuan untuk menentukan kedalaman laut pada setiap lintasan survey dengan menggunakan sistem perekam analog dan digital echosounder dengan frekuensi 200 KHz. Sensor (transducer) alat ini ditempatkan di sisi kapal survey dengan posisi tenggelam (draft) 0,5 – 1 meter. Untuk mendapatkan kedalam air yang sebenarnya maka data yang diperoleh tersebut harus dikoreksi terhadap muka air rata-rata (mean sea level) dari hasil analisis data pasang surut.
Kedalaman laut yang terkoreksi kemudian di plot pada setiap titik dalam lintasan sehingga diperoleh tampilan peta batimetri daerah penelitian yang dapat memberikan informasi kedalaman laut serta keadaan morfologi dasar laut. Dari hasil penelitian ini telah diperoleh kedalaman laut daerah penelitian berkisar antara 2 hingga 24 meter.











Foto 2 Perekam kedalaman air model

3.3 Metoda Penentu Posisi
Dalam penelitian ini digunakan beberapa peralatan penentuan posisi sebagai berikut :
1 (satu) unit GPS Garmin 210 dan Magellan Nav 5000 Pro
1 (satu) unit Notebook Toshiba T-1850 C, 368 SX
1 (satu) unit EDM Sokkisha/Red 2L
2 (dua) unit Theodolit Nikon/NT-2D
Koordinat lokasi ditentukan menggunakan sistem satelit Navigasi Terpadu (`Integrated Satelite Navigation System`) dari data penginderaan satelit Magellan M1000/GARMIN survey II. Jejak lintasan kapal diperoleh dari pengolahan data digital posisi menggunakan paket program modifikasi PPGL. Dengan demikian kehilangan data akibat posisi orbit satelit, digantikan oleh asumsi gerak linier kapal pada haluan dan kecepatan kapal yang konstan, sedangkan titik lintasan di plot setiap selang 2 menit.



















Di dalam kapal

GPS perekam analog

Pemeruman
Power supply Unit
Trigger TCB Swell Filter TVG




Di Luar Kapal
Streamer
Boomer/sparker (Hydrophone)

Gambar 3.2 Diagram pengambilan data





3.4 Pemercontoh Jatuh Bebas
Pengambilan contoh sedimen dengan menggunakan pemercontoh jatuh bebas sebanyak 6 contoh dilakukan pada kedalaman lebih dari 5 meter. Pemercontoh jatuh bebas dilakukan untuk mengetahui ketebalan lumpur. Berdasarkan contoh yang diperoleh, diketahui tebal lumpur pada PSGC-01 adalah 0,5 meter, PSGC-02 = 0,24 meter, PSGC-03 = 0,1 meter, PSGC-04 = 0,64 meter, PSGC-05 = 0,1 meter dan PSGC-06 =0,6 meter. Sehingga kisaran ketebalan penutup tersebut adalah 0,1 – 0,64 meter.

3.5 Pemboran Dalam
Berdasarkan data Seismik, data bor tangan, dan pemercontoh jatuh bebas, endapan pasir banyak diperoleh di sebelah timur daerah penelitian, terutama sepanjang dari Lekok sampiau Mlaten. Mengingat hal diatas maka pemboran dilakukan di Parasgempol, Jatirejo dengan menggunakan mesin RK-210S, Core barrel 59 & 73 mm, casing berdiameter 73 mm dan total kedalaman mencapai 20 m, Mean Water Level rata-rata adalah 1,5 m.
Data bor menunjukan bahwa sedimen yang dijumpai umumnya berupa pasir dengan warna gelap (coklat-hitam kecoklatan), berukuran halus-sedang dengan pemilahan sedang, membundar baik-sedang. Material penyusun umumnya material volkanik dan cangkang fauna. Analisi besar butir dilakukan dari kedalaman 1 meter – 19 meter sebanyak 22 contoh, dengan interval 0,5 dan 1 meter tergantung dari perbedaan jenis pasir dan sifat fisiknya kandungan pasir dari contoh ini berkisar 77,5%-100%. Kandungan pasir 100% dijumpai kedalaman 2,5 – 3m; 3,5-4m; 9,5-100m; 14 – 15m; 15,5 – 16 m daN 17,5 – 18 M. Kandungan kerikil berkisar antara 1,1% - 21,1%, pada kedalaman sampai 2,5 meter banyak mengandung kerikil.
Berdasarkan kenampakan megakopis dan sebaran litologi darat kemungkinan sumber asal dari batuan hasil pemboran yang terdiri atas pasir sedikit kerikilan kelabu kehitaman, tersusun oleh pecahan cangkang fauna dan material vulkanik, merupakan aluvium endapan sungai dan endapan pantai. Sedangkan pasir berwarna coklat kehitaman dan berukuran butir pasir sedang halus serta mengandung material vulkanik kemungkinan berasal dari formasi Kabuh, formasi Jombang dan Tuf Rabano yang merupakan endapan darat.

3.6 Indikasi gas biogenik
Di bagian barat daerah telitian pembentukan delta di muara Kali Porong umumnya di dominasi oleh pasokan sedimen yang berasal dari darat berupa endapan pasir dan lumpur. Kondisi ini dapat terlihat dari morfologi delta yang luas menjorok jauh ke laut. Dengan adanya pembentukan delta yang jauh menjorok ke laut maka hal ini menunjukan bahwa debit sungai yang bermuatan lumpur dalam jumlah besar, menghasilkan akrasi yang besar pula. Berdasarkan pemantauan di lapangan serta dari beberapa data yang telah dikumpulkan maka penelitian ini lebih di fokuskan ke bagian barat Pasuruan (Kali Porong) mengingat banyaknya gas charged sedimen dalam lumpur.
Dari hasil penelitian ini diperoleh 6 contoh sedimen permukaan dengan menggunakan penginti jatuh bebas 5 (lima) dan data titik pemboran dalam.

3.7 Stratigrafi Regional
3.7.1 Tatanan Stratigrafi
Daerah penelitian secara stratigrafi tersusun oleh Formasi Kabuh, Formasi Jombang, Tuf Robano dan Aluvium. Formasi Kabuh(Qpk), diperkirakan berumur plistosen tengah, merupakan sedimen epiklastika bersisipan konglomerat dan berfosil foram. Formasi ini terendapkan dalam lingkungan laut hingga darat.

3.7.2 Batuan Sedimen
a. Formasi Kabuh
Formasi Kabuh tersusun oleh batupasir tufan, batulempung tufan, batupasir gampingan konglomerat, lempung dan tuf.
Batupasir tufan, kelabu muda-coklat, merah muda; berbutir sangat kasar – halus, membundar tanggung – menyudut tanggung; komponen dari pecahan batuan, felspar, amfibol, mineral mafik dan bijih; berstruktur silang-siur, tebal lapisan dari beberapa centimeter hingga beberapa meter.
Formasi Kabuh di sini termasuk runtunan batuan pada lajur Kendeng bagian timur, dan berfasies laut yang berangsur beralih ke arah fasies darat. Fasies daratnya terdiri dari batuan sedimen gunung api epiklastika. Fasies lautnya terdiri dari lempung berfosil dan batupasir gampingan, yang terletak pada bagian bawah formasi. Tebal formasi ini diperkirakan antara 150 m dan 300 m. Formasi Kabuh, setempat diduga tertindih selaras oleh Formasi Jombang dan tak selaras oleh Batuan Gunungapi Kuarter. Sebaran litologi tidak terlalu luas.
b. Formasi Jombang
Formasi Jombang tersusun oleh breksi, batupasir tufan, batulempung tufan, lempung batugamping dan tuf dan umur Formasi ini diperkirakan Plistosen Tengah.
c. Tuf Rabano
Tuf Rabano tersusun oleh tuf pasiran, tuf batuapung, breksi tuf dan tuf halus. Tuf pasiran, kuning keruh hingga coklat muda; berbutir pasir kasar hingga halus, setempat terdapat pecahan batuan berukuran kerakal yang tersebar tak merata; berkomponen mineral terang, andesit, kaca dan pasir gunungapi; kurang mampat, gembur, tebal lapisan beberapa meter.

















































Gambar 3.3 Stratigrafi daerah Pasuruan (Santosa dan Suwarti,1992)

Tidak ada komentar: